PR PSSI dari Kegagalan Menjuarai Final AFF Cup 2016

PR PSSI dari Kegagalan Menjuarai Final AFF Cup 2016

Indonesia kembali mengulang luka lama dengan hanya menjadi runner up di ajang terbesar Asia Tenggaraatau piala AFF setelah di leg kedua final tersungkur oleh pasukan gajah putih Thailand 2-0. Dalam laga 90 menit plus 3 menit tambahan waktu tersebut, pasukan Merah Putih harus merelakan final kelimanya melalui dua gol dari Siroch Chatthong yang otomatis membuat agregat skor menjadi 3-2 untuk Thailand dan membawa pasukan mereka menjuarai Piala AFF kelimanya.

Boaz Cs sebenarnya hanya membutuhkan hasil seri di stadion Rajamangala, Bangkok, setelah 3 hari sebelumnya mereka berhasil memukul Thailand 2-1 di Stadion Pekansari Bogor, 14 Desember 2016, melalui gol Rizky Pora dan Hansamu Yama. Sayangnya modal tersebut tidak mampu dijaga oleh anak buah Alfred Riedl yang memang memainkan skema “parkir bus”. Kalah serangan, lini tengah dikuasai lawan, serta strategi yang monoton, dan kurangnya disiplin pertahanan membuat Thailand leluasa mengunci gelar AFF 2016.

Sepulangnya dari Bangkok, Indonesia harus segera berbenah. Memang hal ini menjadi kisah klise setiap selesai dari kegagalan turnamen Timnas. Namun setidaknya ada 7 PR besar yang harus diselesaikan Indonesia sebelum Sea Games 2017, AFF Cup 2018, serta turnamen yang lain.

1. Penataan kembali Ideologi Kepengurusan PSSI yang Bersih dari Politik

Struktur kepengurusan PSSI periode 2016-2020 di penuhi oleh wajah baru, terutama posisi ketua dan beberapa anggota Exco lainnya. Posisi ketua, Edy Rahmayadi, pria yang menjabat sebagai Pangkostrad TNI, terbilang orang baru di kancah persepakbolaan nasional meski sebelumnya telah menangani PSMS Medan dan PS TNI.

Wakil ketua umum, yakni Joko Driyono dan Iwan Budianto. Keduanya memang lama berkiprah di sepakbola Indonesia. Joko Driyono merupakan CEO PT Liga Indonesia sedangkan Iwan Budianto adalah CEO Arema Cronus. Hanya saja di PSSI keduanya baru masuk dalam kepengurusan. Mereka bertiga akan ditemani oleh 12 anggota Expo yang mayoritas juga orang baru dalam struktur kepengurusan.

Harus disadari oleh semua pihak bahwa PSSI harus murni berjalan untuk sepakbola. Tidak ada interfensi apapun baik itu dari pemerintah apalagi kepentingan politik. Sudah waktunya Bapak Edy Rahmayadi membuktikan diri bahwa PSSI yang sekarang serius memajukan sepakbola Indonesia. Membersihkan seluruh mafia dan pengatur skor pertandingan. Serta menjaga jarak atas kepentingan-kepentingan yang ingin jadi benalu di sepakbola Indonesia.

2. Pemulihan seluruh Tim di Nusantara

Sudah menjadi rahasia publik bahwa tim-tim di Indonesia sebagian bermasalah. Masih adanya Persebaya Surabaya dan enam tim lain yang belum pulih statusnya menjadi bagian dari PSSI, munculnya tim-tim baru yang membutuhkan proses verifikasi yang kuat, serta masalah klise tim seperti tidak memliki stadion yang layak serta sistem kauangan yang sehat dalam mengarungi kompetisi harus dipikirkan oleh PSSI.

Penggunaan sponsorship dan lepasnya dari APBD nyatanya belum sepenuhnya dapat diikuti oleh semua Tim anggota PSSI. Hal itu juga menjadi masalah yang cukup mengganggu karena gaji pemain sering molor. PSSI harus segera berdiskusi dengan pemerintah dalam hal ini Kemenpora bagaiamana metode penyelesaian yang paling jitu. Tentunya mereka tidak meninggalkan seluruh tim di Indonesia untuk berdiskusi bersama dalam membangun kesehatan tim selama periode 2016—2020 kepungurusan PSSI.

3. Kompetisi dan Pembinaan yang Berjenjang

Perlu diingat bahwa perwakilan Indonesia U-15 pernah menjuarai turnamen anatardunia di Gothia Cup Swedia 2016 lalu. U-19 juga sebelumnya mampu menjuarai AFF Cup 2013 di Sidoarjo. Hal itu merupakan fakta dan relaita yang harus dipelajari oleh PSSI. Sudah seharusnya ada kompetisi yang berjenjang.

Kemenpora dengan menggandeng pihak swasta sudah mulai menggulirkan kompetisi yang berjenjang mulai U-12 sampai U-18. Tidak lupa juga ada Liga Santri Nusantara. Hal itu merupakan terobosan yang bagus. Namun tentunya PSSI sendiri harus memiliki Kompetisi yang sepadan. Bukan saingan dari kompetisi yang sudah diadakan.

Kompetisi tertinggi harus segera digulirkan dengan peraturan yang sehat serta tidak pandang bulu. Kompetisi tertinggi ini sudah mulai harus memiliki Divisi-divisi di bawahnya yang juga sehat dan siap untuk menggulirkan roda promosi serta degradasi. Turun setelahnya harus ada U-21, U-19 atau U-18, dan U-15. Pembinaan serta Kompetisi yang berjenjang merupakan sebuah bentuk kesiapan skuad timnas di turnamen dengan usia berapapun yang akhirnya bermuara di timnas senior.

Hal lain adalah produksi permainan yang berkualitas di seluruh kompetisi. Lisensi pelatih dan wasit harus ditingkatkan. Arsitek tim di kasta liga tertinggi setidaknya memegang lisensi kepelatihan A AFC. Pelatih yang berlisensi tinggi setidaknya memiliki inteligensi tentang pertandingan yang cukup profesional untuk pemain-pemainnya. Selain pelatih, kompetisi-kompetisi di Indonesia juga membutuhkan wasit yang berlisensi tinggi untuk menjaga kualitas pertandingan tetap fairplay sesuai regulasi FIFA.

4. Kompetisi Tertinggi yang Jujur dan Menghibur

Kompetisi tertinggi merupakan cikal bakal terbentuknya skuad timnas senior. Kompetisi ini harus diadakan dengan serius oleh PSSI. Campur tangan golongan tertentu apalagi politik harus dibersihkan. Keberpihakan pengurus pada tim-tim tertentu juga harus tidak ada lagi. Meskipun tim itu memiliki sejarah bagus, kalau terlihat tidak mampu mengarungi proses kompetisi sepatutnya tidak diloloskan verifikasi. Tim-tim yang masih memiliki tunggakan gaji tidak perlu ditolelir. Tim-tim yang tidak memiliki stadion layak harus segera menentukan di mana dia akan bermain home.

Hal yang peru dicatat juga adalah tentunya pada kompetisi tertinggi jumlah pemain asing dan naturalisasi harus ada batasnya. Pemain naturalisasi seperti Greg Nwokolo, Christian Gonzales, dan Bio Paulin sudah seharusnya terhitung sebagai pemain asing meskipun secara administrasi mereka adalah WNI. Satu hal, kualitas mereka belum sepadan dengan pemain naturalisai yang berdarah Indonesia maupun pemain lokal, masih lebih tinggi. Jika sebuah tim memiliki 4 pemain asing dan 2 pemain naturalisasi seperti Greg ataupun El-locho dalam susunan 11 pemain, otomotis kompetisi tidak akan seru lagi jika tim tersebut bertemu tim-tim medioker yang hanya memiliki 4 legiun asing.

Aspek menghibur sudah patut dijaga. Hak siar harus diberikan kepada televisi-televisi yang serius menyiarkan sepakbola Indonesia dan tentunya didukung dengan kemampuan statistik yang memadai. Komentator sepakbola juga harus mendidik, memberikan wawasan tentang olahraga, bukan hanya heboh dan bisa teriak-teriak. Jam siaran juga sepatutnya harus dipertimbangkan untuk dapat menyiarkan seluruh pertandingan di seluruh stadion.

5. Kebebasan Pelatih Timnas Memilih Pemain

Berpindah ke Timnas sekarang, skuad U-21 dan Senior harus segera disiapkan. Pemilihan pelatih tentunya sudah harus ditentukan terlebih dahulu. Siapapun pelatihnya, entah itu Jajang Nurdjaman ataupun Gus Hidding pun, kebebasan memilih pemain tidak boleh dicampuri oleh PSSI bahkan pihak sponsor. Pelatih Timnas berbeda dengan pelatih club karena club harus mempertimbangkan kontrak. Jadi pemilihan pemain oleh pelatih timnas tentunya sangat leluasa dan bebas.

Ada sisi baik memang dari AFF 2016 kemarin dengan hanya diperbolehkan mengambil dua pemain dari satu club. Alhasil nama-nama seperti Hansamu Yama, Risky Pora, dan Bayu Pradana bisa melejit. Namun kita juga tentunya tidak melihat sosok pengalaman seperti Hamka Hamzah, Sergio Van Djik, serta bintang-bintag muda seperti Adam Alis, Paulo Sitanggang, maupun Febri Haryadi.

Tetap, kebebasan nantinya harus ada di tangan sang pelatih untuk memilih skuad yang di bawa. Pelatih yang tahu dia ingin memainkan skema seperti apa dan membutuhkan karakter pemain yang bagaimana.

6. Pendidikan Tinggi bagi Pemain Muda

Pendidikan, apakah pemain sepakbola membutuhkan pendidikan akademik? Jawabannya adalah pasti, harus. Penikmat sepakbola dari penonton sampai pelatih di tepi lapangan tentunya lebih suka melihat kesebelas pemain kesayangannya adalah seorang visoner. Seorang yang memiliki ide-ide cemerlang dalam kebuntuan.

Kita tentunya sangat bangga dengan apa yang dilakukan Abduh Lestaluhu karena itu martabat bangsa dan wajar dilakukan oleh anak muda. Namun apa yang terjadi setidaknya jika 11 pemain Indonesia waktu itu memiliki visi bermain yang cerdas seperti yang dilakukan Chanatip Songkrasin waktu itu, atau Andreas Iniesta, Steven Gerrard, bahkan mungkin yang biasa ditunjukkan Evan Dimas dan Paulo Sitanggang waktu di U-19. Mungkin tidak ada pemain kita yang terburu-buru mengejar waktu. Skema pelatih akan dilakukan dengan tepat dan dikembangakan dengan hebat.

Pendidikan setidaknya juga membuat pemain Indonesia minimal bisa berbahasa Inggris untuk menerjemahkan intruksi pelatih, komunikasi dengan wasit, atupun mempelajari strategi lawan. Visi bermain dan kemampuan berbahasa bisa diasah, salah satunya melalui pendidikan akademik. Indonesia memiliki banyak universitas dengan fakultas keolahragaan yang mumpuni untuk menampung para pemain muda timnas belajar mengembangkan visi permainan dan tentunya juga mengasah skil bertanding.

7. Keterbukaan Publik dan Tim untuk menilai Pertandingan

Hal yang mungkin belum ada adalah PSSI memiliki media komunikasi dengan seluruh tim serta publik suporter sepakbola. Di Liga Inggris ada pandit-pandit yang gemar menulis dan mengomentari pertandingan. Mereka dapat membantu publik dan suporter dalam mengarahkan apakah keputusan pemain, pelatih, wasit, dan segala elemen serta kejadian dalam pertandingan berjalan lanjar. FA pun tidak segan-segan memberi hukuman bagi pemain yang waktu 90 menit tidak mendapatkan kartu merah dengan skorsing.

Hal itu pernah terjadi di Indonesia. Namun sekarang khususnya di ajang ISC 2016 kemarin banyak sekali hal-hal dalam pertandingan yang luput dari pengawasan wasit. Penyalaan flare sudah sepatutnya mendapatkan hukuman tegas. Tidak hanya denda mungkin bisa dengan pengurangan poin.

Demi membantu pihak operator pertandingan, PSSI sudah seharusnya membukakan media bagi publik, mungkin bisa diwakili oleh pengamat-pengamat sepakbola dalam menilai jalannya pertandingan untuk dibagikan masyarakat. Pengawasan publik sangat perlu agar tidak lagi muncul lagi anggapan bahwa tuan rumah ataupun tim hebat tidak akan bisa dikalahkan.

Kita seluruh supporter Indonesia sudah sepatutnya memberikan dukungan yang tak henti-hentinya terhadap PSSI dalam pembenahan sepakbola Indonesia. Prestasi yang dibanggakan dengan menjadi juara semoga bukan lagi impian dan harapan-harapan semata. Jaya Indonesiaku! Jaya Sepak Bola Indonesia!