BERPRESTASI DAN MENDUNIA: BANGGA MENJADI ANAK INDONESIA

BERPRESTASI DAN MENDUNIA: BANGGA MENJADI ANAK INDONESIA

Di media-media banyak diberitakan penyimpangan para pelajar-pelajar Indonesia dari koridor tujuan pendidikan. Kerap sekali muncul dan menjadi viral anak-anak berani melawan gurunya sendiri yang diperparah dengan orang tua malah mendukung kesalahan anaknya. Terakhir, muncul video seorang siswa SD yang ingin memukul ibu gurunya ketika ditertibkan. Hal itu mendapat sorotan banyak di media sosial maupun televisi.

Selain kasus penyimpangan, perlu disadari bahwa Indonesia juga pelajar-pelajar hebat yang mampu berprestasi bahkan mendunia. Hal itu patutnya juga sering diangkat oleh media. Tentunya bukan sebagai penutup borok dunia pendidikan, melainkan sebagai motivasi bagi pelajar-pelajar di seluruh Indonesia untuk lebih giat berusaha dan belajar agar berprestasi dan tentunya tetap membuat bangga menjadi anak Indonesia.

Samuel Putra: Salah Satu Lulusan Terbaik di Universitas No. 1 Dunia

University of Oxford merupakan perguruan terbaik di dunia. Lulus dan menjadi salah satu mahasiswa terbaik di sana tentunya merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Hal itu telah dicapai oleh Samuel Leonardo Putra (21) yang sukses lulus dengan nilai teratas plus predikat summa cumlaude pada jenjang S1 hingga S2 jurusan Teknik Kimia di Universitas Oxford, Inggris.

Dia berhasil menyelesaikan S1 di jurusan teknik kimia Oxford dalam waktu 3 tahun dengan kategori First Class, setara dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,5-4. Selain masuk kategori First Class, Samuel juga mendapat predikat tambahan Summa Cumlaude. Predikat ini diberikan bagi mahasiswa yang menempati peringkat top 5% di angkatannya. Samuel sukses menempati peringkat top 4%. Jenjang S2 di jurusan yang sama ini ditempuhnya dalam waktu 1 tahun, dengan predikat yang sama gemilangnya dengan S1.

Kabar tersebut sebenarnya sudah dipijaknya mulai tahun 2012 dengan meraih medali perak pada Olimpiade Kimia Internasional (OKI). Prestasi pelajar SMA MH Thamrin tersebut membuatnya mendapatkan beasiswa Olimpiade Sains Internasional (OSI) dari Pemerintah Indonesia untuk dibiayai kuliah serta hidup selama S1 dan S2. Hal itu tentunya membuat Samuel remaja yang sama sekali tidak memiliki cita-cita berkuliah di luar negeri karena biaya akhirnya bisa belajar di Oxford.

"Sebenarnya dulu nggak kepikiran sama sekali ke Inggris. Dari awal tak punya cita-cita ke luar negeri, apalagi ke Inggris karena kan biayanya mahal kan poundsterling," tutur Samuel (dikutip dari Detik.com).


Riset Samuel pada jenjang S2 adalah tentang microbial fuel cell yang mengubah air limbah menghasilkan listrik memakai bakteri anaerob (yang bisa hidup tanpa oksigen). Risetnya tentang energi terbarukan berlanjut ke S3 yang dibiayai beasiswa Jardine Foundation di kampus yang sama. Risetnya ini mengembangkan dari riset S2-nya.

Semua hal tersebut tentunya tidak diraih Samuel dengan mudah. Sudah pasti ada usaha yang ekstra dan tidak biasa.
"Saya terbiasa kerja keras. Background saya yang olimpiade itu kan proses seleksinya panjang, pelatihan sana-sini, belajar dari pagi sampai malam, bahkan weekend. Etos kerjanya sudah biasa, ketika kuliah nggak kesulitan, rasanya ringan saja. Saat mengikuti seleksi Olimpiade kita kan belajar analisa soal, menangkap pelajaran yang levelnya lebih tinggi. Nah semangat belajar itu yang saya pertahankan, belajar semaksimal mungkin. Puji Tuhan hasilnya ada," tutur Samuel yang sudah kembali ke Inggris untuk melanjutkan S3 di kampus yang sama ini (dikutip dari detik.com).


Pelajar di Indonesia sudah sepatutnya dapat melihat peluang untuk berprestasi dan mendunia seperti Samuel. Tidak ada yang susah jika mau berusaha dengan keras dan percaya semua ada jalannya. Tetap Bangga Menjadi Anak Indonesia!