TIPS AGAR ANAK "AMAN" MENGGUNAKAN GADGET DAN INTERNET

Menjadi orang tua atau parents di era global menuntut untuk menguasai segala macam akses teknologi. Hal ini selain karena kebutuhan sehari-hari seperti keperluan kerja, orang tua juga harus dapat memastikan bahwa gadget dan internet yang sedang digunakan anaknya memang baik dan mendidik.

Sang buah hati di zaman internet murah ini sudah dapat dengan mudah bahkan mungkin lebih pintar dalam menggunakan gadget dan internet daripada sang orang tua. Jika ini terjadi tanpa ada usaha dari parents maupun guru di sekolah untuk melek teknologi juga bisa jadi anak-anak dengan sengaja maupun tidak akan mudah mengakses konten-konten pornografi, cyberbullying, kekerasan, intoleransi SARA, maupun hal negatif lain.

Berikut ini ada pertanyaan yang harus parents maupun guru-guru di sekolah pastikan sudah dilakukan atau belum untuk dapat mudah memantau dan mendidik generasi bangsa dalam penggunaan gadget dan internet:

  1. Sudahkah Anda menerapkan Parental Control?

    Parental Control ini merupakan metode yang tidak boleh dilewatkan. Ada Parental Control yang merupakan aplikasi bawaan yang ada di operating system gadget baik itu PC/laptop seperti Windows, Mac, atau yang lain. Ada juga pada smartphone seperti Android, iOs, ataupun BlackBerry. Aplikasi ini bisa diatur oleh parents untuk gadget di rumah maupun guru (khususnya guru komputer) untuk PC/Laptop di sekolah.

    Pada umumnya, aplikasi bawaan ini mengharuskan parents ataupun guru memiliki dua user di gadgetnya. User yang pertama untuk parents atau guru itu sendiri dan tidak bisa diakses anak-anak atau berpassword. User yang kedua dapat diakses anak-anak. Pada user yang kedua ini arent atau guru dapat mengatur:

    • Jadwal penggunaan gadget (jadi kalau tidak jammnya, user untuk anak-anak tidak akan bisa dibuka).
    • Game apa saja yang biasa dimainkan, hal ini sangat membantu karena OS akan mendeteksi game-game yang tidak sesuai dengan pengaturan. Game yang tidak berlisensi atau kasarnya tidak jelas asal-usulnya pun akan otomatis ditolak.
    • Aplikasi apa saja yang bisa digunakan. Hal ini dapat membantu parents atau guru untuk membatasi penggunaan aplikasi, bukan hanya game.
    • Selain apikasi bawaan, banyak juga aplikasi parental control yang dpat di-download oleh parents maupun guru-guru. Aplikasi-aplikasi ini juga lebih fleksibel dan memiliki banyak fitur-fitur yang belum ada di parental control bawaan OS. Beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk di-install di PC maupun smartphone seperti: K9 Web Protection, Kid Mode, Kid Logger, Kakatu, dan Time Away serta banyak lagi yang lain.

  2. Aplikasi dan File apa saja yang ada di Gadget sang anak?

    Poin ini dapat dilakukan jika parent memberikan keleluasaan penuh anak untuk menggunakan gadget-nya. Sebebas-bebasnya anak Anda, usahakan tetap melakukan monitoring apikasi apa saja yang ter-download, ter-copy, maupun ter-install dalam gadget anak-anak Anda. Memonitoring tidak hanya dengan melihat aplikasi apa saja, tapi coba dibuka, bahkan kalau game coba diaminkan. Pastikan tidak ada konten-konten kekerasan, seksual, bully, maupun intoleransi terhadap SARA.

    Selain aplikasi, melihat file-file yang tersimpan di memori, flashdisk, maupun CD merupakan langkah aman serta pencegahan agar putra-putri Anda tidak menyimpan gambar, teks/tulisan, musik, maupun video yang negatif dan tidak mendidik.

  3. Bagaimana Postingan maupun kegiatan lain sang anak di sosial media?

    Sosial media merupakan tempat paling bebas untuk manusia menyebarkan hal-hal negatif seperti pornografi, kekerasan, bullying, dan saat ini yang populer adalah berita hoax tentang SARA maupun kebencian terhadap kelompok tertentu. Sudah saatnya jika anak Anda memiliki sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path, BBM, Line, WhatsApp, Snapchat, Vine, Bigo, dan masih banyak yang lain, Anda mulai melakukan monitoring apa saja kegiatan Anak Anda di sana.

    Untuk mengecek sosial media ini beberapa Anda memerlukan mengecek gadget-nya, tapi beberapa ada yang cukup berteman. Selalu ajarkan putra-putri kita untuk memposting atau mengirim konten yang baik-baik dan bukan hal yang pribadi. Selalu ajarkan juga berhati-hati dengan orang yang baru dikenal. Banyak sekali bukan kasus anak diculik, diperkosa, hingga dibunuh oleh teman facebook yang baru dikenal.

    Selain anak-anak, parent maupun guru-guru juga harus memberikan contoh yang baik ketika menggunakan sosial media. Sangat lucu jika kita melarang anak-anak kita untuk tidak berkomentar kotor di facebook namun kita sendiri mengumpat di sosial media.

  4. Rutinkah memonitor halaman apa saja yang dibuka sang anak?

    Kata kunci keempat adalah browser. Usahakan memilih Google Chrome sebagai browser yang digunakan anak-anak kita. Langkah berikutnya adalah jika anak-anak kita menggunakan gadget pribadinya, pastikan chrome tersebut sudah terdaftar email anak kita yang berusia sesuai anak kita (minimal 13 tahun). Hal ini disebabkan pencarian di browser akan disesuaikan dengan usia penggunanya. Jika email yang telah login di browser adalah 13 tahun, konten-konten yang muncul akan berbeda dengan hasil pencarian usia 30 tahun.

    Selain menyetting browser, memantau history pencarian dan download merupakan hal yang harus rutin dilakukan. History menunjukkan apa saja yang telah di-browsing dan di-downoad pengguna browser. History memang dapat dibersihkan kapanpun, namun dengan mengecek rutin setidaknya mencegah anak-anak kita untuk mengakses konten-konten negatif.

  5. Rutinkah memonitor tayangan yang ditonton sang anak?

    Berikutnya yang tidak boeh terlewat adalah memfilter dan memonitor tayangan apa saja yang ditonton anak. Media yang pertama adalah televisi. Parents sebisa mungkin mendampingi anak dan mampu menjawab dengan benar apa saja yang ditonton dan ditanyakan anak tentang tayangan di televisi. Membatasi untuk melihat acara-acara yang kurang mendidik sangat perlu dilakukan.

    Selain televisi kini ada juga media video paling populer yaitu YouTube. Parents tidak boleh acuh dengan YouTube karena sekarang kebanyakan anak muda Indonesia memiliki idola Youtuber yang sering sekali mengucapkan makian dan kata-kata berbau seksual hingga adegan ciuman seperti Awkarin, Anya Geraldine, Reza Oktovian, dan masih banyak lagi. Konten mereka tidak seluruhnya jelek, bahkan banyak yang berisi motivasi tentang belajar dan tentang hidup. Namun di YouTube tidak ada filter untuk mengunggah kata-kata apapun tanpa disensor.

    Jika anak Anda sudah pandai mengumpat, mungkin dengan bilang "Njiirr", sudah saatnya Anda mengatur YouTube di gadget anak Anda. Pengaturan Youtube dapat dibatasi sekali lagi dengan usia email “Google” anak Anda karena YouTube memang bagian dari Google. Selain itu dapat juga dipilih pengaturan Youtube untuk membatasi konten yang tidak pantas dengan memilih Restricted Mode.

    Harus diketahui bahwa video apapun dapat muncu di YouTube. Parents harus lebih awas lagi terhadap tontonan anak-anak. Jangan sampai mereka ingin melihat kartun namun video berikutnya yang muncul adalah konten porno.

Selain lima tips dan metode tersebut masih banyak lagi cara-cara yang dapat dilakukan parents maupun guru-guru dalam mendidik anak dan menjauhkan dari konten negatif di gadget maupun koneksi internet. Hal paling mudah dan paling nyaman dilakukan sebenarnya aadalah dengan meluangkan banyak waktu dengan anak, mengajak sharing, dan tentunya mengakses gadget maupun internet bersama. Mari menjadi orang tua yang cerdas berteknologi! Mari menyiapkan generasi penerus bangsa yang berbudi!